BEST vs SSIA vs DMAS, Bagaimana Prospeknya?

Pemerintah saat ini menggenjot investasi masuk ke dalam Indonesia. Kebijakan-kebijakan untuk memudahkan investasi terus digodog. Seperti proses pengajuan invetasi yang dipermudah dan dipercepat waktunya, hingga kebijakan mengenai ketenagakerjaan. Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun daftar fasilitas baik perpajakan, maupun non perpajakan untuk investasi prioritas yang berasal.Industri yang prioritas adalah industri berorientasi ekspor subtitusi impor, padat karya, padat modal, hightech, dan berbasis digital.

Di sisi lain, mengutip pernyataan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan terdapat 143 perusahaan dari luar negeri yang siap merelokasi investasinya ke Indonesia. Kedua hal tersebut memberikan peluang bagi perusahaan properti yang bergerak di bidang lahan industri seperti BEST, SSIA (JK:SSIA ), dan DMAS. Lalu bagaimana prospek ketiga saham tersebut?

ProspekProspek

BEST

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) adalah pengembang dan operator untuk kawasan industri kelas dunia di Indonesia. Produk andalan BEST adalah Kota Industri MM2100 yang berlokasi di Bekasi. BEST memiliki totalland banksebesar 695 ha per Juni 2020.

Pada 2020 ini BEST menargetkan pendapatan pra-penjualan sebesar 10-15 ha atau sebesar Rp 260 miliar - Rp 450 miliar atau turun 40% dari total penjualan sepanjang 2019. Penurunan target ini karena faktor pandemi yang berlangsung.

Penjualan BEST sepanjang semester-I ini sebesar 3 ha dengan harga rata-rata Rp 2.7 juta/m2 atau sebesar Rp 153,8 miliar, turun 58.5% dibandingkan dengan semester-I 2019. Pada semester-I 2020 BEST mencatatkan rugi sebesar Rp 37 miliar, turun dari untung Rp 114 miliar pada semester-I 2019.

Total (PA:TOTF ) utang BEST mengalami penurunan 13.2% menjadi Rp 1.9 triliun. Utang BEST dibandingkan ekuitas sebesar 0.44 dan utang dibandingkan aset sebesar 0.31. Angka tersebut bisa dikatakan baik karena total utang dibanding ekuitas dan aset masih berada dibawah 1.

BESTBEST

BESTBEST

SSIA

SSIA adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, pengembang kawasan industri, properti komersial, dan perhotelan melalui penyertaan pada entitas anak. SSI memiliki grandplan bernama Subang Smart & Sustainable City dengan total luas 2000ha. sampai bulan Juni 2020, total landbank SSIA yang siap jual di Subang Smart & Sustainable City adalah 116 ha.

Pada tahun 2020, manajemen SSIA menargetkan pendapatan Rp 3.4 triliun. Sampai semester-I 2020, pendapatan SSIA sebesar Rp 1.4 triliun, turun 19.2% dibandingkan semester-I 2019. Pada semester-I 2020, rugi SSIA semakin membesar menjadi Rp 114 miliar dari Rp 7 miliar pada semester-I 2019.

Total utang SSIA mengalami penurunan 4.3% menjadi Rp 3.5 triliun. Utang SSIA dibandingkan ekuitas sebesar 0.45 dan utang dibandingkan aset sebesar 0.81. Angka tersebut bisa dikatakan baik karena total utang dibanding ekuitas dan aset masih berada dibawah 1.

SSIASSIA

GrafikGrafik

DMAS

PT Puradelta Lestari (DMAS) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang properti khususwnya lahan industri. DMAS memiliki proyek strategis bernama Kota Deltamas seluas ± 3.200 hektar di Cikarang dan dilamnya terdapat kawasan industri Greenland International Industrial Center (GIIC) seluas****± 1500 hektar. Per 30 Juni, total landbank DMAS sebesar 1293 ha dengan landbank untuk industri sebesar 423 ha.

Pada tahun 2020, DMAS menargetkan pendapatan pra penjualan Rp 2 miliar. Sampai bulan Juni 2020, pendapatan pra penjualan DMAS sudah mencapai Rp 1.1 miliar. Pendapatan yang dibukukan DMAS sepanjang semester-I sebesar 252 miliar, turun 74.4% dibandingkan penjualan semester-I 2019. Laba DMAS pun turun sebesar 87.4% menjadi Rp 78 miliar.

Total utang DMAS meningkat25.8% menjadi Rp 1.5 triliun. Utang DMAS dibandingkan ekuitas sebesar 0.22 dan utang dibandingkan aset sebesar 0.28. Angka tersebut bisa dikatakan baik karena total utang dibanding ekuitas dan aset masih berada dibawah 1.

DMASDMAS

GrafikGrafik

Kesimpulan

Jika melihat histori kinerja keuangan BEST, SSIA, dan DMAS. BEST memiliki kinerja yang lebih baik dari aspek profitabilitas, rasio utang dan valuasi. BEST mampu menjaga marjin labanya hingga tahun 2019 sebesar 40% dan juga rata-rata laba dibanding modal 10%. Selain itu, secara valuasi dengan PBV, BEST lebih murah dengan PBV 0.38.

Kedepan, SSIA memiliki potensi untuk menarik investor menimbang proyeknya di Subang memiliki UMR yang jauh lebih kecil dibanding BEST dan DMAS yang berada di Bekasi dan Cikarang. UMR Kabupaten Subang pada tahun 2020 sebesar Rp 2.965.468. Sedangkan UMK Kabupaten Bekasi dan Bekasi sebesar Rp 4.498.961 dan Rp 4.589.708. SSIA juga memiliki valuasi sebesar PBV 0.47, lebih murah dibanding DMAS.

Selain itu, jika ditinjau dari lokasinya proyek SSIA memiliki tempat yang strategis karena sangat disupport dengan infrastruktur yang dibangun dekat lokasi proyek SSIA. Terdapat tol trans jawa, pelabuhan Patimban yang menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, ada bandara Kertajati, dan juga lintas kereta. Hal ini menjadi hal positif bagi SSIA.

Walaupun demikian, untuk saat ini EMtrade lebih merekomendasikan saham BEST dan SSIA untuk trading dibandingkan untuk investasi melihat masih beratnya keadaan sektor properti saat ini.

Untuk trading kami merekomendasikan BEST dan SSIA. Hal ini menggunakan strategi buy in breakout. Kami membeli BEST di harga 146 pada 27 Agustus 2020 dan sudah floating profit 29.45% (16/9) dan saat ini menjadi kesempatan bagi yang belum memiliki untuk membeli karena sudah kembali breakout.

Untuk SSIA kami membeli hari ini setelah harga SSIA breakout dari 418. Kami membeli di harga 428 pada tanggal 18 September 2020 dan saat ini floating profit 2.34%. Saham BEST dan SSIA kami jadikan sebagai saham super.